Kab Tasikmalaya. Peristiwajabar.co.id – Seorang warga Karangnunggal, Andi Kuswandi atau yang akrab disapa Andi Ralis mengeluhkan antrian panjang dan kemacetan di SPBU Karangnunggal. Keluhannya diunggah melalui media sosial Facebook dan TikTok, hingga akhirnya menjadi viral dan mendapat respons luas dari masyarakat.
Andi menjelaskan bahwa dirinya sudah lama menghindari pengisian BBM di SPBU tersebut karena antrian yang dinilai terlalu panjang dan memakan waktu lama. Pada hari kejadian, bensin kendaraan Andi sudah hampir habis sehingga ia terpaksa mengisi BBM di SPBU Karangnunggal.
“Saya sudah sekitar tiga tahun mengalami masalah kesehatan dan tidak bisa terlalu lama menunggu. Saya rutin terapi tiap minggu dan kadang harus disuntik anti nyeri. Saat itu bensin saya sudah kuning dan perjalanan ke Cirapi atau Tasik masih jauh, jadi mau tidak mau harus isi di sana,” ungkap Andi.
Menurut Andi, setibanya di SPBU ia melihat antrian kendaraan, baik mobil maupun motor mengular hingga jalan raya, bahkan menyebabkan kemacetan. Ia mengaku menghabiskan waktu sekitar 40 menit hanya untuk menunggu giliran.
Andi sempat menanyakan penyebab antrian kepada beberapa pengendara lain yang sudah terbiasa mengantri di lokasi tersebut. Namun, ia tidak mendapatkan penjelasan yang jelas. Karena merasa jengkel, Andi kemudian merekam situasi dan mengunggahnya ke media sosial.
Unggahan tersebut langsung ramai menjadi pembicaraan.
“Komentar yang masuk hampir 90 persen mendukung. Tapi ada juga yang tidak setuju, namanya juga netizen. Bahkan ada yang mengirim ancaman lewat inbox,” kata Andi.
Ancaman tersebut antara lain berupa intimidasi, termasuk ada yang mengklaim akan menabrakkan mobil jenis Fuso. Meski demikian, Andi mengaku belum melaporkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian.
“Kalau saya tahu orangnya, mungkin saya laporkan. Tapi akunnya pakai akun palsu dan terkunci. Nomor telepon yang dikirimkan juga ternyata bukan milik pengirim ancaman, melainkan orang lain,” jelasnya.
Andi menambahkan bahwa banyak warga lain juga mengirimkan video kondisi antrian serupa, memperlihatkan kendaraan yang sama berulang kali mengantri. Hal tersebut memunculkan dugaan adanya praktik oleh oknum pembeli dan pegawai yang menyebabkan antrean semakin panjang.
Menurut Andi, antrian BBM yang mengular ke jalan raya berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat, seperti keterlambatan anak sekolah dan pekerja yang hendak berangkat.
“Saya berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Banyak warga yang mengeluh, bukan hanya saya. SPBU di wilayah sini kan terbatas, sementara jumlah warga Karangnunggal saja hampir 70 ribu. Itu membuat antrian semakin padat,” ujarnya.
Terkait tanggapan dari pihak kecamatan, koramil, maupun polsek, Andi mengaku belum mengetahui perkembangan lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa unggahannya bukan bertujuan mencari sensasi, melainkan murni sebagai bentuk kegelisahan warga.
“Saya hanya menyampaikan apa yang saya rasakan. Duduk lama menunggu sangat menyakitkan bagi kondisi kesehatan saya. Semoga ada solusi agar pelayanan BBM lebih baik,” tutupnya. ( Asep D )








