Ciamis – Bukit Samida yang terletak di Desa Sirnajaya, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis sarat akan sejarah dan budaya. Khususnya bagi masyarakat Rajadesa.
Bukit asri dan menyejukan mata ini menyimpan sejarah tentang berdirinya Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Dalam buku Sejarah Rajadesa karya H. M. Suryana Wiradiredja dikisahkan tentang Guru Gantangan anak dari Dewi Nawangsih permaisuri ketiga Prabu Siliwangi. Konon, Prabu Siliwangi mempunyai 40 orang anak.
Dalam buku tersebut diceritakan, Guru Gantangan mempunyai kekurangan fisik berupa tangan kanan yang bengkok.
Dalam suatu pertunjukan tari di istana, Prabu Siliwangi melihat kekurangan fisik tersebut. Atas perintah Prabu Siliwangi, Patih kerajaan melarang Guru Gantangan tampil dalam pertunjukan tari itu.
Pelarangan tersebut karena, Prabu Siliwangi mengira, Guru Gantangan bukan keturunannya.
Merasa kecewa, Guru Gantangan memutuskan untuk pergi dari istana. Ia pergi menuju timur berharap ada orang yang bisa menyembuhkan tangannya dengan petunjuk dewa.
Setelah sekian lama melakukan perjalanan, dalam keadaan mengenaskan, sampailah ia di leuwueung gede (hutan lebat) di Kadipaten Rancah. Kemudian, ia dirawat di rumah Adipati Rancah, Dalem Gayam Cengkong, dalam sumber lain disebutkan sebagai Dalem Gayam Cengkok.
Atas kebaikan Dalem Gayam Cengkong, ia diijinkan untuk tinggal di rumahnya. Akan tetapi, ia tidak berterus terang saat seorang emban menanyakan asal-usulnya.
Dari mana dia berasal, keturunan siapa dia dan kenapa sampai ke Kadipaten Rancah dalam keadaan mengenaskan. Guru Gantangan memilih bungkam.
Suatu hari, musibah menimpa putri dari Adipati Rancah, ia mengalami keracunan. Tidak ada seorang pun yang dapat mengobatinya. Tak disangka, Guru Gantangan bisa menyembuhkan sang putri.
Bahagia dengan kesembuhan putrinya, juga sebagai ucapan terima kasih kepada Guru Gantangan. Adipati Rancah menjodohkan putrinya dengan Guru Gantangan.
Beberapa waktu kemudian, Dalem Gayam Cengkong memerintahkan Guru Gantangan untuk melakukan tapa di hulu sungai Cirancah.
Seekor tupai putih menghampirinya saat melakukan tapa. Guru Gantangan berusaha mengkap tupai tersebut dengan tangannya yang cacat. Keajaiban terjadi, tangannya sembuh saat berusaha menangkap tupai tersebut.
Dua belas bulan kemudian, empat orang utusan Prabu Siliwangi datang untuk mengajak Guru Gantangan pulang ke istana.
Purwakalih, Gelap Nyawang, Kidang Pananjung dan Pangadegan adalah empat utusan Prabu Siliwangi, selain mengajak Guru Gantangan kembali ke istana, mereka juga membawa tujuh ruas air.
Dalem Gayam Cengkong, Adipati Rancah, yang mengetahui bahwa menantunya adalah putra Prabu Siliwangi berniat untuk menyerahkan tampuk kepemimpinan Kadipaten Rancah kepada Guru Gantangan.
Tetapi, Guru Gantangan menolaknya dan memilih jalannya sendiri. Ia ingin mendirikan wilayahnya sendiri.
Bersama dengan istrinya dan para utusan Pajajaran, Guru Gantangan memimpin perjalanan menuju arah selatan hingga sampailah mereka di sebuah tempat yang tinggi.
Tempat mereka berhenti sekarang, sebuah bukit, dinamakan Dusun Randegan. Dalam bahasa Sunda randeg berarti berhenti. Beberapa saat kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan menemukan tempat yang handap, dalam bahasa Sunda berarti rendah.
Mereka sepakat untuk tinggal sementara disana. Tujuh ruas air yang dibawa para utusan Pajajaran disimpan di dekat rumahnya, untuk kemudian disebut Pasarean.
Selanjutnya, mereka mulai membangun pemukiman, membangun rumah, Balairung, jalan dan sarana lainnya. Pemukiman yang mereka bangun lambat laun menjadi ramai, orang-orang mulai berdatangan untuk ikut bermukim. Di kemudian hari pemukiman tersebut dinamakan Handapraja.
Merasa pemukiman tersebut terlalu curam, Guru Gantangan memutuskan untuk meninggalkannya dan melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Di sana ia menemukan pelataran yang cukup luas dan indah bernama bukit Samida.
Rupanya, di bukit Samida sudah ada penduduk yang menetap dengan tokohnya bernama Aki Gedeng.
Aki Gedeng berbaik hati mempersilahkan rombongan Guru Gantangan untuk bermukim di sana. Sementara itu, Aki Gedeng sendiri memilih untuk pindah ke Gunung Marapi.
Lambat laun, bukit Samida semakin berkembang dan ramai. Guru Gantangan sendiri mendapat gelar sebagai Ki Gede Raja Desa.
Seiring berjalan waktu, keempat utusan Pajajaran memutuskan untuk kembali ke pusat Kerajaan. Mereka membawa kabar gembira ihwal berdirinya Rajadesa. Prabu Siliwangi sangat bahagia mendengar kabar tersebut.
Kemudian, Prabu Siliwangi memerintahkan keempat utusan tersebut untuk kembali ke Rajadesa dengan dua orang utusan tambahan yakni, Liman Jaya Sakti dan Jaga Dalu.
Guru Gantangan sendiri dinobatkan oleh Prabu Siliwangi sebagai raja di tempat tersebut dengan gelar Prabu Sirnaraja, keterangan lain menyebutkan sebagai Prabu Sirnajaya.
Dibawah kepemimpinan Guru Gantangan yang bergelar Prabu Sirnaraja, konon, pemukiman tersebut dalam keadaan aman, tentram dan sejahtera.
Dalam menjaga keamanan wilayah, Guru Gantangan dibantu oleh ronda malam Ki Jagadalu, dalam bahasa Jawa Dalu berarti malam.
Dikisahkan dalam menjalankan tugasnya, Ki Jagadalu ditemani oleh seekor harimau hitam bernama Ki Tempang. Konon, Ki Tempang merupakan keturunan Bongbang Larang dan Bongbang Kencana, dua maung legendaris Panjalu simbol persahabatan Jawa dan Sunda pasca perang Bubat.
Bongbang Larang( laki-laki) dan Bongbang Kencana (perempuan) merupakan dua maung kembar legendaris Panjalu putra dari hasil pernikahan Raja Majapahit bergelar Prabu Brawijaya dan Puteri Pajajaran Kencana Larang. (Abid)








