Tasikmalaya Peristiwajabar.co.id – Setiap hujan deras mengguyur Kota Tasikmalaya, persoalan klasik kembali terulang. Kawasan Jalan Padayungan dan Jalan HZ Mustofa yang merupakan pusat aktivitas ekonomi dan lalu lintas mendadak berubah menjadi “danau dadakan”.
Genangan air yang kerap mencapai hampir satu meter membuat pengendara motor hingga pejalan kaki harus berjibaku menerobos banjir. Tak sedikit sepeda motor mogok di tengah jalan akibat mesin kemasukan air, memicu kemacetan sekaligus kerugian bagi pengguna jalan.
Masalah Lama, Solusi Teu Katingali
Banjir di titik ini, termasuk area sekitar Asia Plaza, bukanlah kejadian baru. Berdasarkan pantauan, kondisi tersebut dipicu oleh beberapa faktor utama, di antaranya saluran drainase yang tersumbat sampah seperti plastik dan styrofoam, fenomena back water dari saluran besar ke kecil, serta sedimentasi sungai yang menyebabkan pendangkalan.
Sayangnya, persoalan ini terus berulang tanpa penanganan yang terlihat signifikan. Warga pun mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan masalah yang sudah bertahun-tahun terjadi.
Warga Nyentil: “Ulah Ngan Seremonial, Kudu Gancang Gawe!”
Kritik keras datang dari masyarakat yang berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Viman Alfarizi Ramadhan lebih fokus pada pembenahan infrastruktur dasar.
“Kami mah capé. Unggal hujan ageung, Padayungan jeung HZ Mustofa pasti banjir. Ulah ngan rame ku acara seremonial, tapi gawe nyata kudu karasa,” ujar Andri, warga setempat.
Sorotan juga mengarah pada maraknya event lari atau maraton di Kota Tasikmalaya, seperti QRIS UNSIL Tasik Half Marathon hingga Adhyaksa Tasik Run, bahkan aksi lari keliling kota sejauh 60 kilometer.
Warga menyindir, semangat “lari” tersebut seharusnya tidak berhenti di event atau pencitraan semata.
“Ulah nepi ka warga anu kudu terus ‘lari’ tina banjir, sedengkeun kota sibuk ngurus lomba lari,” tambahnya.
Butuh Aksi Nyata, Lain Janji
Masyarakat mendesak agar pemerintah segera mengambil langkah konkret, mulai dari pembersihan rutin dan normalisasi saluran air, perbaikan serta perluasan drainase, hingga penegakan hukum bagi pembuang sampah sembarangan.
Bagi warga, banjir di kawasan pusat kota ini bukan sekadar genangan air, melainkan persoalan serius yang mengganggu aktivitas ekonomi, keselamatan, dan kenyamanan.
Kini, publik menanti akankah Pemkot Tasikmalaya benar-benar “lari cepat” menyelesaikan masalah, atau justru terus tertinggal oleh genangan yang itu-itu lagi?
Jurnalis : A.W.








