Tasikmalaya. Peristiwajabar.co.id – Keberadaan tiang Penerangan Jalan Umum (PJU) di kawasan Jogging Track Dadaha, Kota Tasikmalaya, kini menuai sorotan tajam dari masyarakat. Pasalnya, fasilitas yang seharusnya menjadi penunjang keamanan dan kenyamanan publik itu justru tak berfungsi sebagaimana mestinya.
Ironisnya, kondisi tersebut bukan terjadi baru-baru ini. Sejak tahun 2008 hingga 2026, lampu-lampu PJU di kawasan tersebut dilaporkan tidak pernah menyala. Akibatnya, area yang mestinya menjadi pusat aktivitas olahraga dan rekreasi warga justru berubah menjadi gelap gulita saat malam hari.
Situasi ini menimbulkan keresahan tersendiri. Selain mengganggu kenyamanan, minimnya penerangan dinilai berpotensi memicu berbagai risiko, mulai dari tindak kriminal hingga aktivitas yang tidak diinginkan.
Gelap Gulita, Rawan Kejahatan
Warga mengaku khawatir dengan kondisi Jogging Track Dadaha yang gelap total setiap malam. Mereka menilai, ketiadaan penerangan membuat kawasan tersebut rawan dimanfaatkan untuk tindakan kriminal maupun perbuatan asusila.
“Sudah belasan tahun mati, dari 2008 sampai sekarang masih saja padam. Kalau dibiarkan terus, ini bisa mengundang kejahatan dan jadi tempat mesum,” ujar Iyan, salah satu warga Tasikmalaya.
Menurutnya, sangat disayangkan tiang-tiang PJU yang sudah berdiri kokoh hanya menjadi “pajangan” tanpa fungsi nyata. Padahal, anggaran untuk pembangunan fasilitas tersebut tidak sedikit.
Sindiran Pedas: “Dadaha Paroek Kie”
Kondisi yang tak kunjung diperbaiki memicu kekecewaan warga. Bahkan, muncul sindiran bernada lokal yang menyebut kawasan Dadaha kini terkesan “paroek” atau ketinggalan dan tak terurus.
“Kalau terus begini, warga jadi malas ke sini. Dadaha kie paroek, dibiarin poék terus,” tambahnya.
Sindiran ini mencerminkan rasa frustrasi masyarakat terhadap lambannya penanganan fasilitas publik yang seharusnya menjadi prioritas.
Sorotan untuk Wali Kota
Kondisi tersebut juga menyeret perhatian publik terhadap Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, yang dikenal aktif mempromosikan kegiatan olahraga lari di kota tersebut.
Warga mempertanyakan konsistensi antara semangat mempopulerkan olahraga dengan kondisi fasilitas di lapangan yang dinilai jauh dari memadai.
“Walikota kan suka jogging dan maraton. Tapi kenapa Dadaha yang jadi tempat olahraga justru gelap terus?” ungkap Iyan.
Bahkan, sebagian warga menyindir lewat pantun, menyinggung kesan bahwa kegiatan seremonial lebih diutamakan dibanding pembenahan fasilitas dasar seperti penerangan.
Harapan Warga
Masyarakat berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya segera turun tangan. Mereka meminta dinas terkait melakukan pengecekan dan perbaikan agar lampu PJU di kawasan Dadaha dapat kembali berfungsi.
Dengan penerangan yang memadai, warga berharap Jogging Track Dadaha bisa kembali menjadi ruang publik yang aman, nyaman, dan layak digunakan oleh masyarakat, terutama pada malam hari.
Jurnalis : Anwar. W
Editor. : Asep Dian








