Kabupaten Tasikmalaya. Peristiwajabar.co.id – Kondisi memprihatinkan dialami puluhan pelajar di Kabupaten Tasikmalaya yang harus bertaruh nyawa demi mengenyam pendidikan. Setiap hari, mereka terpaksa menyeberangi Sungai Ciwulan dengan arus deras untuk bisa sampai ke sekolah.
Peristiwa ini terjadi di jalur penghubung antara Desa Nagrog, Kecamatan Cipatujah, dengan Desa Bojongasih, Kecamatan Culemega. Hingga kini, akses tersebut masih menjadi satu-satunya jalur yang bisa dilalui warga, termasuk para siswa.
Saat tim Peristiwa Jabar meninjau lokasi, terlihat ratusan sepeda motor berjejer di sekitar aliran sungai. Para pelajar tetap nekat melintas meski kondisi arus air tampak kuat dan berbahaya, terutama saat debit meningkat di musim hujan.
Salah seorang siswa, Rini, mengungkapkan harapannya agar pemerintah segera menghadirkan solusi yang aman dan layak bagi masyarakat.
“Kami mohon kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan Provinsi Jawa Barat, tolong buatkan jembatan yang kokoh. Setiap hari kami harus menyeberang seperti ini, sangat berbahaya, apalagi saat hujan dan air besar,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ketimpangan pembangunan yang masih dirasakan warga pedesaan. Menurutnya, perhatian pemerintah selama ini dinilai lebih banyak terfokus pada pembangunan di wilayah perkotaan.
“Perhatikan juga jalan dan akses di pedesaan, jangan hanya pentingkan jalan kota. Kan sering dibilang ‘ngurus lembur, tata kota’, tapi yang di desa malah tidak diurus,” keluhnya.
Kekecewaan itu bahkan dituangkan dalam sebuah pantun sederhana yang sarat makna:
“Lembur tidak urus, kota ditata…
“Lembur dibiarkan saja, kota yang disiksa…
Pantun tersebut menjadi sindiran halus namun tajam atas ketimpangan pembangunan yang dirasakan masyarakat.
Kini, warga dan para pelajar hanya bisa berharap agar pemerintah segera turun tangan. Keberadaan jembatan yang layak bukan sekadar soal akses, tetapi juga menyangkut keselamatan generasi muda yang setiap hari mempertaruhkan nyawa demi masa depan.
Jurnalis Anwar.W
Editor Asep Dian








