Tasikmalaya. Peristiwajabar.co.id – Di tengah riuhnya lalu lintas dan padatnya aktivitas kota, ada sosok-sosok yang setia berdiri di pinggir jalan, mengatur kendaraan tanpa banyak disorot. Mereka adalah para juru parkir, pekerja informal yang setiap hari bergelut dengan panas, hujan, dan ketidakpastian penghasilan. Kamis 16/04/2026
Bagi sebagian orang, profesi ini kerap dipandang sebelah mata. Namun di balik rompi oranye yang mereka kenakan, tersimpan cerita perjuangan yang jarang terdengar.
Yayat, seorang juru parkir senior di Kota Tasikmalaya, membagikan kisahnya dengan nada lirih namun penuh keteguhan. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mengatur kendaraan, tetapi soal bertahan hidup.
“Harian kami bergantung pada cuaca dan kemurahan hati,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa sejak pagi hingga sore, bahkan terkadang hingga malam, ia berdiri di tepi jalan menunggu kendaraan datang. Saat cuaca cerah, rezeki masih bisa diharapkan. Namun ketika hujan turun, jalanan sepi dan penghasilan pun ikut mengering.
“Kadang setoran saja tidak cukup, apalagi untuk kebutuhan rumah tangga,” tambahnya.
Tidak seperti pekerja formal, Yayat dan rekan-rekannya tidak memiliki gaji tetap maupun jaminan kesehatan. Semua bergantung pada jumlah kendaraan yang parkir dan keikhlasan pengguna jasa.
Di sisi lain, mereka juga harus menghadapi persoalan yang tak kalah pelik: maraknya parkir liar. Kehadiran oknum tidak resmi yang mematok tarif lebih tinggi tanpa karcis membuat masyarakat bingung, sekaligus merugikan petugas resmi.
“Kami sudah pakai seragam, pakai karcis, tarif juga jelas. Tapi di dekat kami ada yang minta lebih mahal tanpa aturan. Akhirnya kami yang disalahkan,” keluhnya.
Kondisi ini membuat posisi juru parkir resmi semakin terjepit. Mereka tetap dibebani target setoran, namun harus bersaing dengan praktik yang tidak terkontrol.
Belum selesai dengan persoalan itu, perubahan sistem juga menjadi tantangan baru. Kebijakan seperti “Tanpa Karcis, Parkir Gratis” dan penerapan pembayaran digital melalui QRIS dinilai baik untuk transparansi. Namun bagi sebagian petugas, terutama yang berusia lanjut, adaptasi teknologi bukan hal mudah.
“Kalau pakai QRIS, uangnya masuk ke rekening. Tapi nominal kecil-kecil, lama terkumpulnya untuk kebutuhan harian. Kami juga sering ditanya soal karcis, padahal kondisi di lapangan tidak selalu ideal,” jelasnya.
Di balik semua kesulitan tersebut, harapan Yayat sebenarnya sederhana. Ia tidak menuntut lebih, hanya ingin keberadaannya dan rekan-rekannya diakui serta dihargai.
“Kami cuma ingin diperhatikan, status kami jelas, dan parkir liar bisa ditertibkan. Kami juga punya keluarga yang harus dinafkahi,” ucapnya.
Ia juga berharap adanya sistem yang lebih tertata, seperti pembagian wilayah kerja yang tegas dan izin resmi yang jelas bagi setiap petugas, agar tidak terjadi tumpang tindih dan persaingan tidak sehat.
Di akhir perbincangan, Yayat menutup dengan harapan yang penuh makna. Sebuah harapan kecil yang mewakili banyak suara yang selama ini terabaikan.
“Semoga ada solusi terbaik, supaya sistem parkir di Tasikmalaya lebih adil, baik untuk masyarakat maupun kami yang mencari nafkah di jalan,” pungkasnya dengan senyum getir.
Kisah Yayat menjadi pengingat bahwa di balik rutinitas kota, ada manusia-manusia tangguh yang berjuang dalam diam, menunggu untuk sekadar dipahami, dihargai, dan diperlakukan dengan lebih adil.
Jurnalis : Anwar.W








