TASIKMALAYA. Peristiwajabar.co.id – Kawasan Dadaha yang selama ini dikenal sebagai ruang terbuka publik kebanggaan Kota Tasikmalaya, kini telah berkembang jauh melampaui fungsi awalnya sebagai sarana olahraga. Setiap hari, kawasan ini dipadati warga yang datang untuk berolahraga, bersantai, menikmati kopi, hingga berkumpul bersama keluarga dan sahabat.Minggu.17/05/2026 Jawabarat.
Namun di balik ramainya aktivitas tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah potensi ekonomi Dadaha sudah benar-benar dikelola secara serius dan profesional?
Seorang pengunjung asal Kabupaten Ciamis yang ditemui tim Peristiwa Jabar menilai, Dadaha sejatinya memiliki nilai strategis yang mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat jika penataannya dilakukan secara lebih terarah dan modern.
“Sekarang Dadaha bukan hanya tempat olahraga atau jogging track. Tempat ini sudah menjadi pusat berkumpul masyarakat dari berbagai kalangan. Kalau ditata dengan rapi dan indah, Dadaha sangat layak menjadi ikon Kota Tasikmalaya,” ujarnya.
Menurutnya, tingginya aktivitas masyarakat di kawasan tersebut menunjukkan adanya perputaran uang yang sangat besar setiap harinya. Sayangnya, potensi itu dinilai belum sepenuhnya memberikan dampak optimal bagi pembangunan kawasan maupun kesejahteraan masyarakat.
“Perputaran uang di Dadaha ini besar sekali. Tapi kalau pengelolaannya masih berjalan sendiri-sendiri dan tidak tertata, potensi sebesar apa pun tidak akan menghasilkan dampak maksimal,” katanya.
Ia menilai, pemerintah daerah perlu hadir lebih serius dalam membangun sistem pengelolaan yang transparan dan terpusat, terutama dalam hal retribusi dan penataan pelaku usaha.
“Retribusi sebaiknya dikelola satu pintu oleh pemerintah daerah agar pengawasan lebih jelas, tidak tumpang tindih, dan hasilnya bisa kembali digunakan untuk memperbaiki fasilitas serta mempercantik kawasan Dadaha,” ungkapnya.
Selain itu, keberadaan pelaku UMKM yang menjadi denyut ekonomi kawasan juga dinilai membutuhkan pembinaan yang lebih jelas dan berkelanjutan. Menurutnya, tanpa penataan yang baik, kawasan yang potensial justru rawan menjadi semrawut dan kehilangan daya tarik.
“UMKM di sini perlu dibina langsung oleh dinas terkait seperti Koperindag. Mulai dari kualitas produk, standar harga, sampai ketertiban tempat usaha harus diperhatikan. Kalau tertata, pedagang nyaman, pengunjung pun betah,” tambahnya.
Ia juga menyarankan Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk tidak gengsi belajar dari daerah lain, termasuk Kabupaten Ciamis yang dinilai cukup berhasil dalam penataan kawasan publik dan pembinaan pelaku usaha kecil.
“Tidak ada salahnya studi banding ke Ciamis. Penataan kawasan dan pembinaan UMKM di sana cukup baik. Banyak hal positif yang bisa diterapkan di Dadaha,” katanya.
Di tengah tingginya antusiasme masyarakat terhadap kawasan tersebut, Dadaha dinilai tidak cukup hanya ramai oleh aktivitas warga. Kawasan ini membutuhkan arah pembangunan yang jelas agar tidak sekadar menjadi pusat keramaian tanpa identitas dan manfaat ekonomi jangka panjang.
“Dadaha adalah aset besar Kota Tasikmalaya. Kalau dirawat dan dikelola dengan sungguh-sungguh, dampaknya bukan hanya untuk ekonomi masyarakat, tapi juga untuk citra kota ke depan,” pungkasnya.
Jurnalis : Anwar.W








