• Redaksi
  • Pedoman Jurnalistik
Saturday, June 6, 2026
Peristiwa Jabar
  • Home
  • Politik Hukum
  • Peristiwa
  • Birokrasi
  • Sosial Budaya
  • Edukasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik Hukum
  • Peristiwa
  • Birokrasi
  • Sosial Budaya
  • Edukasi
No Result
View All Result
Peristiwa Jabar
No Result
View All Result

Relokasi Pasar Wisata ke Desa Sukahurip Tuai Sorotan, DPUPRKP Pangandaran Buka Suara

Redaksi by Redaksi
May 18, 2026
in Politik Hukum
0
Relokasi Pasar Wisata ke Desa Sukahurip Tuai Sorotan, DPUPRKP Pangandaran Buka Suara
0
SHARES
8
VIEWS
Share on WhatsappShare on Facebook

PANGANDARAN. Peristiwajabar.co.id – Proses relokasi Pasar Wisata ke Desa Sukahurip, Kabupaten Pangandaran, tengah menjadi sorotan masyarakat. Polemik mencuat setelah kondisi lahan relokasi dinilai belum siap ditempati, sementara sebagian bangunan kios dan hunian sudah mulai berdiri. Menanggapi hal itu, Sekretaris Dinas PUPR Pangandaran, Kurnia Hendriana, akhirnya angkat bicara. Senin 18/05/2026 Jawabarat

Menurut Kurnia, pemerintah daerah sebenarnya tidak tinggal diam. Ia menegaskan bahwa pembangunan kawasan relokasi memang dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran serta kebutuhan teknis di lapangan.

RELATED POSTS

Pasar Cikurubuk Kian Memprihatinkan: Kumuh, Gelap, dan Dinilai Terabaikan di Jantung Ekonomi Priangan Timur

Ratusan ASN Resmi Dilantik, Bupati Ciamis Ingatkan Amanah Jabatan dan Integritas

“Banyak masyarakat yang mendesak agar pembangunan dipercepat. Tapi harus dipahami, pematangan lahan itu tidak bisa instan. Minimal membutuhkan waktu enam bulan sampai satu tahun agar kondisi tanah benar-benar stabil,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, anggaran yang tersedia saat ini baru sebagian kecil dari kebutuhan ideal proyek. Padahal, untuk membangun kawasan relokasi lengkap dengan sarana pendukung seperti jalan, drainase, listrik, air bersih hingga tempat pembuangan sementara, dibutuhkan anggaran sekitar Rp9 miliar.

“Sekarang baru tahap perataan lahan. Kalau langsung dibangun tanpa proses pemadatan alami, risiko retak dan ambles sangat besar. Jadi bukan pemerintah lambat, tapi ada tahapan teknis yang memang harus dilalui,” katanya.

Kurnia juga membantah anggapan bahwa pemerintah tidak memiliki perencanaan matang. Ia menyebut konsep relokasi disusun bertahap, dimulai dari penyediaan lahan dan infrastruktur dasar, sebelum masyarakat membangun hunian secara mandiri melalui bantuan stimulan.

“Stimulan itu bukan untuk membangun rumah mewah. Pemerintah memberi bantuan agar masyarakat bisa berkreasi membangun sendiri sesuai kemampuan, namun tetap dibatasi ukuran lahannya,” ujarnya.

Menurutnya, banyak kesalahpahaman di tengah masyarakat terkait nominal bantuan yang dianggap harus langsung menghasilkan bangunan sempurna. Padahal, konsep yang diterapkan lebih kepada bantuan awal agar warga dapat mulai menata kehidupan baru di lokasi relokasi.

Di sisi lain, muncul kritik dari warga yang menilai kawasan relokasi terlihat seperti “bedeng” dan belum layak huni. Namun Kurnia meminta masyarakat melihat proses pembangunan secara utuh.

“Kalau sekarang terlihat belum bagus, itu karena fasilitasnya memang belum lengkap. Nanti setelah jalan, drainase, listrik dan air masuk, kawasan itu akan berkembang,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah sempat menawarkan dua opsi lokasi relokasi kepada warga, yakni di Desa Purbahayu dan Desa Sukahurip. Namun mayoritas masyarakat akhirnya memilih Sukahurip.

“Bukan pemerintah memaksa. Kami hanya menyediakan pilihan berdasarkan ketersediaan tanah negara yang ada. Dan warga memilih Sukahurip,” katanya.

Lebih jauh, Kurnia menyinggung persoalan klasik agraria di Indonesia yang kerap menjadi hambatan pembangunan. Menurutnya, keterbatasan lahan milik pemerintah membuat proses relokasi tidak mudah dilakukan.

“Tanah pemerintah sangat terbatas. Sementara kebutuhan lahan untuk pembangunan terus meningkat,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung rencana besar pengelolaan sampah regional di Pangandaran dan wilayah sekitar. Ke depan, sistem Tempat Pembuangan Akhir (TPA) disebut akan diarahkan menuju pengolahan energi listrik berbasis sampah, meski membutuhkan anggaran besar dan kerja sama lintas daerah.

Polemik relokasi Pasar Wisata sendiri diperkirakan masih akan terus bergulir. Di satu sisi masyarakat menginginkan percepatan pembangunan, sementara pemerintah menegaskan bahwa proses teknis dan keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama yang tidak bisa diabaikan.(Asep.D )

SendShare
Redaksi

Redaksi

Related Posts

Pasar Cikurubuk Kian Memprihatinkan: Kumuh, Gelap, dan Dinilai Terabaikan di Jantung Ekonomi Priangan Timur

Pasar Cikurubuk Kian Memprihatinkan: Kumuh, Gelap, dan Dinilai Terabaikan di Jantung Ekonomi Priangan Timur

by Redaksi
May 27, 2026
0

Tasikmalaya. Peristiwajabar.co.id - Pasar Cikurubuk yang berada di pusat Kota Tasikmalaya selama ini dikenal sebagai pasar induk terbesar sekaligus urat...

Ratusan ASN Resmi Dilantik, Bupati Ciamis Ingatkan Amanah Jabatan dan Integritas

Ratusan ASN Resmi Dilantik, Bupati Ciamis Ingatkan Amanah Jabatan dan Integritas

by Redaksi
May 26, 2026
0

CIAMIS. Peristiwajabar.co.id - Sebanyak 426 Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Ciamis resmi dilantik dan diambil sumpah jabatannya...

Janji Pembangunan RSUD hingga Perguruan Tinggi di Karangnunggal Dipertanyakan, Warga Serta Aliansi Desak Kepastian Pemkab Tasikmalaya

Janji Pembangunan RSUD hingga Perguruan Tinggi di Karangnunggal Dipertanyakan, Warga Serta Aliansi Desak Kepastian Pemkab Tasikmalaya

by Redaksi
May 22, 2026
0

KAB. TASIKMALAYA. Peristiwajabar.co.id. - Rencana pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Sekolah Rakyat (SR), hingga Perguruan Tinggi di Kecamatan Karangnunggal...

Dana Desa Dinilai Belum Menyentuh Warga, Tokoh Karangmekar H. Usup Soroti Minimnya Transparansi dan Kecilnya Bantuan Sosial

Dana Desa Dinilai Belum Maksimal Dirasakan Warga, Kades Karangmekar Curhat Keterbatasan Anggaran

by Redaksi
May 21, 2026
0

Tasikmalaya  Peristiwajabar.co.id - H. Usup, Kepala Desa Karangmekar, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi keuangan desa yang dinilai semakin berat dan berdampak...

FSBB Soroti Dugaan Pungli dan Persoalan Kesejahteraan Buruh dalam Audiensi di DPRD Kota Banjar

FSBB Soroti Dugaan Pungli dan Persoalan Kesejahteraan Buruh dalam Audiensi di DPRD Kota Banjar

by Redaksi
May 18, 2026
0

Kota Banjar,. Peristiwajabar.co.id - - Forum Solidaritas Buruh Banjar (FSBB) menggelar audiensi dalam rapat dengar pendapat umum bersama DPRD Kota...

Next Post
Dishub Pangandaran Kaji Skema Baru Bagi Hasil Parkir Tepi Jalan Umum

Dishub Pangandaran Kaji Skema Baru Bagi Hasil Parkir Tepi Jalan Umum

Kakek Pemulung Keluhkan Sulitnya Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Tengah Kemewahan Pejabat

Kakek Pemulung Keluhkan Sulitnya Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Tengah Kemewahan Pejabat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CATEGORIES

  • Birokrasi
  • Edukasi
  • Peristiwa
  • Politik Hukum
  • Redaksi
  • Sosial Budaya
  • Uncategorized
Peristiwa Jabar

© 2022 PeristiwaJabar

  • Redaksi
  • Pedoman Jurnalistik

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik Hukum
  • Peristiwa
  • Birokrasi
  • Sosial Budaya
  • Edukasi

© 2022 PeristiwaJabar