Tasikmalaya. Peristiwajabar.co.id – Pasar Cikurubuk yang berada di pusat Kota Tasikmalaya selama ini dikenal sebagai pasar induk terbesar sekaligus urat nadi perekonomian masyarakat Priangan Timur. Aktivitas perdagangan dari Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis hingga kawasan Pantai Pangandaran bertumpu pada denyut pasar tradisional tersebut. Namun di tengah tingginya aktivitas masyarakat saat Hari Raya Idul Adha 2026, wajah Pasar Cikurubuk justru menuai sorotan tajam.
Kondisi pasar dinilai semakin kumuh, tidak tertata, dan minim perhatian. Selain persoalan kebersihan serta bangunan yang rusak, kawasan Jalan Cikurubuk juga dikeluhkan gelap gulita akibat lampu penerangan jalan umum (PJU) yang banyak mati total.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah bangunan pasar tampak menua dan tidak terawat. Cat dinding mengelupas, beberapa bagian struktur mengalami kerusakan, sementara penataan kios dan lapak pedagang terlihat semrawut. Tidak sedikit bangunan tambahan liar berdiri di sejumlah titik hingga mempersempit akses lorong pasar.
Persoalan kebersihan pun masih menjadi pekerjaan rumah besar. Tumpukan sampah terlihat di beberapa sudut pasar, ditambah saluran air yang kurang terawat sehingga menimbulkan bau tidak sedap. Kondisi tersebut dinilai ironis mengingat Pasar Cikurubuk merupakan pusat distribusi bahan pangan yang setiap hari dipadati ribuan pengunjung.
Situasi semakin memprihatinkan ketika malam tiba. Kawasan jalan utama dan lingkungan pasar berubah menjadi gelap karena banyak lampu PJU tidak berfungsi. Minimnya penerangan membuat aktivitas masyarakat terganggu dan memunculkan kekhawatiran soal keamanan.
Di sejumlah titik yang gelap dan minim pengawasan, warga mengaku kerap melihat aktivitas sosial yang dinilai meresahkan. Kondisi ini dinilai menjadi dampak dari lemahnya penataan kawasan dan buruknya fasilitas penerangan umum.
“Pasar ini kebanggaan masyarakat Tasikmalaya dan pusat perdagangan terbesar di Priangan Timur. Tapi sekarang kondisinya kotor, semrawut, dan malam hari gelap karena lampu jalan mati. Sangat disayangkan,” ujar Sugih, salah seorang pengunjung Pasar Cikurubuk.
Kekecewaan warga juga diarahkan kepada Pemerintah Kota Tasikmalaya. Mereka menilai pembenahan pasar hingga kini belum menjadi prioritas serius, padahal Pasar Cikurubuk memiliki peran vital terhadap perputaran ekonomi masyarakat.
Warga bahkan menyinggung slogan penataan wilayah yang selama ini digaungkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yakni “lembur diurus, kota ditata”. Menurut mereka, kondisi Pasar Cikurubuk justru bertolak belakang dengan semangat tersebut.
“Kalau kota benar-benar ditata, seharusnya pasar induk seperti ini menjadi perhatian utama. Ini wajah ekonomi masyarakat, bukan sekadar tempat jual beli biasa,” ungkap seorang warga lainnya.
Kritik juga diarahkan kepada Wali Kota Tasikmalaya yang dinilai lebih banyak menghadiri kegiatan seremonial dibanding fokus pada penataan fasilitas publik. Warga berharap pemerintah segera melakukan langkah konkret dan menyeluruh.
Masyarakat mendesak Dinas Perdagangan, Dinas Lingkungan Hidup, serta instansi terkait segera melakukan pembenahan total, mulai dari penataan kios dan bangunan, pengelolaan sampah, perbaikan saluran air, hingga menghidupkan kembali seluruh lampu PJU di kawasan pasar.
Selain itu, penertiban aktivitas sosial yang dianggap meresahkan pada malam hari juga dinilai penting demi mengembalikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.
Sebagai pasar induk terbesar di wilayah Priangan Timur, Pasar Cikurubuk dinilai layak mendapat perhatian lebih serius. Pembenahan berkelanjutan diharapkan mampu mengembalikan wajah pasar menjadi kawasan perdagangan yang bersih, tertib, aman, dan kembali menjadi kebanggaan masyarakat Tasikmalaya serta Jawa Barat.
Jurnalis Anwar.W








