Jakarta, 8 Agustus 2026. Peristiwajabar.co.id – Pemerintah terus mematangkan langkah pembaruan buku ajar nasional sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi pendidikan Indonesia. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut atas perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap kualitas buku pelajaran yang digunakan peserta didik, sekaligus mendorong penguatan budaya membaca sejak usia dini sebagai investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan, perhatian Presiden Prabowo terhadap pembaruan buku ajar berawal dari kunjungan Kepala Negara ke sejumlah sekolah. Dalam kunjungan tersebut, Presiden meninjau secara langsung buku-buku pelajaran yang digunakan para siswa dan menemukan sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian.
“Saat mengecek buku pelajaran, itu beliau lihat satu per satu. Kemudian kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga, kemudian tulisannya kecil-kecil, sehingga anak-anak SD khususnya bacanya sangat dekat. Kemudian ya kalau dibaca kurang baik. Sehingga atas dasar itu, beliau mau cek buku-buku dari SD sampai SMA semuanya,” ujar Seskab Teddy dalam keterangannya kepada awak media, Jumat (7/8/2026).
Menurut Seskab Teddy, setelah meninjau dan mempelajari buku-buku pelajaran yang digunakan di Indonesia, Presiden Prabowo menginstruksikan agar kualitas buku ajar nasional turut dibandingkan dengan buku-buku dari negara-negara tetangga. Perbandingan tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi untuk mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki dan dikembangkan.
“Awalnya yang punya kita dulu, dicek dulu semuanya, beliau lihat satu-satu. Kemudian coba dibandingkan ke negara tetangga. Pada awalnya seperti itu, sehingga yang tadi Pak Mensesneg sampaikan, dicek, nanti intinya akan diperbaiki menjadi lebih baik,” ungkap Seskab Teddy.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pembaruan buku ajar tidak hanya diarahkan pada aspek fisik, tetapi juga pada penguatan substansi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.
Presiden Prabowo, kata Menteri Pras, memberikan perhatian pada penguatan karakter kebangsaan, peningkatan kemampuan di bidang sains dan teknologi, serta penguasaan bahasa asing sebagai bagian dari kesiapan generasi muda menghadapi persaingan global.
“Kedua, mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi, basic-nya adalah salah satu contohnya adalah matematika. Yang ketiga, untuk menghadapi kompetisi global, salah satu concern beliau adalah kemampuan bahasa asing, salah satunya adalah bahasa Inggris,” kata Menteri Pras.
Dari sisi fisik, Presiden Prabowo juga menginginkan buku pelajaran memiliki kualitas yang lebih baik dan lebih nyaman digunakan peserta didik. Tampilan buku diharapkan lebih menarik, ukuran huruf lebih mudah dibaca, serta menggunakan bahan yang lebih berkualitas dan tahan lama.
“Kalau tampilan tadi sudah kami jelaskan, penginnya besar, menarik, tulisan tidak kecil-kecil, bahannya pun juga yang bagus supaya itu bisa bertahan dalam sekian waktu. Mungkin kadang-kadang, dulu kan ada yang buku ini tidak dimiliki pribadi dan kemudian bisa diwariskan atau dipakai oleh adik kelasnya,” jelas Menteri Pras.
Selain pembaruan buku ajar, pemerintah juga menempatkan penguatan budaya membaca sebagai bagian penting dari agenda peningkatan kualitas pendidikan. Menurut Menteri Pras, perhatian Presiden Prabowo terhadap kebiasaan membaca tidak terlepas dari nilai-nilai yang ditanamkan dalam lingkungan keluarganya sejak usia dini.
Ia menjelaskan, kebiasaan membaca secara rutin, membuat rangkuman, dan menyampaikan kembali hasil bacaan kepada orang tua merupakan salah satu pola pendidikan yang pernah diterapkan dalam keluarga Presiden Prabowo. Pendekatan tersebut, menurutnya, relevan untuk kembali didorong di lingkungan pendidikan nasional.
“Sejak usia belia, keluarga Pak Mitro selalu mewajibkan putra-putrinya untuk setiap minggu membaca sekian buku, kemudian membuat rangkuman dan disampaikan kepada orang tua. Itu adalah juga cara mendidik yang kami juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dikdasmen untuk itu juga mulai kita galakkan lagi, mulai kita giatkan lagi, gemar membaca buku dan wajib membaca buku bagi kita semua,” ujar Menteri Pras.
Pembaruan buku ajar nasional dengan demikian diarahkan tidak semata pada penyempurnaan materi dan kualitas fisik buku, tetapi juga pada upaya membangun ekosistem pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk membaca, memahami, dan mengembangkan pengetahuan secara berkelanjutan.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berupaya memastikan buku ajar tidak hanya menjadi sarana penyampaian materi pembelajaran, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam membentuk karakter, memperkuat kemampuan dasar sains dan teknologi, meningkatkan penguasaan bahasa, serta menumbuhkan budaya membaca di kalangan generasi muda Indonesia.
Sumber (BPMI Setpres)








