• Redaksi
  • Pedoman Jurnalistik
Monday, September 14, 2026
Peristiwa Jabar
  • Home
  • Politik Hukum
  • Peristiwa
  • Birokrasi
  • Sosial Budaya
  • Edukasi
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik Hukum
  • Peristiwa
  • Birokrasi
  • Sosial Budaya
  • Edukasi
No Result
View All Result
Peristiwa Jabar
No Result
View All Result

Pemerhati Sosial Politik Dorong Sejarah Kota Tasikmalaya Diabadikan melalui Nama Jalan, Monumen, dan Ruang Publik

Redaksi by Redaksi
September 9, 2026
in Politik Hukum
0
Pemerhati Sosial Politik Dorong Sejarah Kota Tasikmalaya Diabadikan melalui Nama Jalan, Monumen, dan Ruang Publik
0
SHARES
16
VIEWS
Share on WhatsappShare on Facebook

Tasikmaalaya. Peristiwajabar.co.id – Sejarah Kota Tasikmalaya tidak hanya tersimpan dalam buku atau arsip, tetapi juga melekat pada nama jalan, tugu, jembatan, bangunan, hingga berbagai ruang publik yang setiap hari digunakan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Asep Komara, pemerhati sosial politik Kota Tasikmalaya, yang menilai masih banyak narasi sejarah lokal yang perlu digali, dikenalkan, dan diwariskan kepada generasi penerus.

RELATED POSTS

Dadaha Kian Semrawut, Publik Pertanyakan Keseriusan Pemkot Menata Ikon Wisata Tasikmalaya

Petugas Parkir Jalur Hijau Sejuk Mengadu ke DPRD, Keluhkan Pungutan yang Dinilai Memberatkan

Menurut Asep, menggali sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu. Sejarah harus mampu menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk memahami perjuangan para pendahulu sekaligus membangun masa depan.

“Masih banyak sejarah yang perlu dicari tahu. Dari narasi sejarah itu kita bisa menemukan keteladanan para tokoh dan perjuangan mereka untuk bangsa,” ujar Asep.

Salah satu tokoh yang menurutnya penting dikaitkan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan adalah “Prof. Iwa Kusuma Sumantri”, putra Ciamis yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan awal Republik Indonesia. Dalam narasi yang disampaikan Asep, Iwa disebut pernah mengusulkan penggunaan kata “Proklamasi” menggantikan “Maklumat” dalam konteks pernyataan kemerdekaan.

Asep juga mendorong agar sejarah perjuangan nasional lebih kuat dihadirkan dalam ruang publik Kota Tasikmalaya. Salah satunya melalui penamaan jalan baru atau Jalan Lingkar Utara dengan nama Jalan Dr. Ir. Soekarno.

Menurutnya, pemberian nama tersebut bukan sekadar persoalan administratif, melainkan dapat menjadi media edukasi sejarah bagi masyarakat.

Ia juga mengusulkan pembangunan “Patung Dwitunggal Proklamator Soekarno-Hatta” di kawasan sekitar persimpangan wilayah Kelurahan Sukamanah, Jalan Dr. Mohammad Hatta, menuju kawasan Lanud Wiriadinata.

“Di kawasan tersebut masih terdapat lahan atau ruang yang memungkinkan untuk dibangun patung, baik berupa patung setengah badan maupun patung penuh,” kata Asep.

Asep mengingatkan bahwa perjalanan para pendiri bangsa tidak selalu berjalan dalam suasana tanpa perbedaan. Bahkan, perbedaan pandangan politik pernah terjadi di antara tokoh-tokoh besar bangsa.

Ia mencontohkan hubungan “Soekarno dan Mohammad Hatta”. Kendati keduanya pernah berbeda pandangan mengenai demokrasi terpimpin dan Hatta kemudian mundur dari jabatan Wakil Presiden, hubungan persahabatan keduanya tetap terjaga.

Demikian pula dengan Buya Hamka. Menurut Asep, kisah hubungan Hamka dan Soekarno menunjukkan adanya sisi kemanusiaan dan persaudaraan yang tetap dapat tumbuh meskipun terdapat perbedaan pandangan politik.

“Apakah luka-luka sejarah tersebut tidak bisa terhapuskan demi persatuan nasional dan demi tercapainya tujuan kemerdekaan Bangsa Indonesia?” tuturnya.

Karena itu, menurut Asep, generasi sekarang perlu melihat sejarah secara lebih utuh. Perbedaan dan konflik pada masa lalu hendaknya tidak terus diwariskan sebagai permusuhan, tetapi dijadikan pembelajaran untuk memperkuat persatuan.

Asep juga menyoroti penggunaan nama-nama yang memiliki unsur sejarah dalam tata ruang wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya.

Ia menyebut sejumlah nama wilayah maupun jalan yang menggunakan kata “Nagara”, antara lain “Nagarawangi, Kersanagara, Subanagara, Sukanagara, Setianegara, Yudanagara, Buninagara, dan Nagarasari.

Bahkan, menurutnya, nama “Pancasila” juga telah digunakan sebagai nama kawasan atau terminal yang memiliki fungsi menghubungkan sejumlah jurusan angkutan kota di Tasikmalaya serta akses menuju Ciamis dan Banjar.

Perkembangan infrastruktur Kota Tasikmalaya, menurut Asep, juga dapat menjadi bagian dari perjalanan sejarah baru kota.

Ia mencontohkan pembangunan Jalan Inpres Lingkar Utara, dan keberadaan ,Jembatan Cilosèh yang telah diresmikan pada 29 Agustus 2024\. Perkembangan akses tersebut dinilainya mulai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk munculnya berbagai usaha kuliner.

Asep melihat ruang-ruang baru tersebut tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga dapat menjadi ruang interaksi sosial dan ekonomi masyarakat.

Hal serupa terlihat di kawasan Jembatan Cilosèh yang pada waktu tertentu mulai dimanfaatkan masyarakat untuk berdagang, berjualan kuliner, bersepeda, maupun sekadar menikmati suasana.

Namun, ia berharap pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada aspek fisik. Menurutnya, akses jalan baru harus disertai penyelesaian berbagai persoalan konektivitas agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Asep juga menyoroti keberadaan Jembatan Gantung Sukamenak, yang menghubungkan Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, dengan Kampung Benteng, Kelurahan Sukamenak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya.

Jembatan tersebut selain digunakan pejalan kaki juga dimanfaatkan untuk sepeda dan sepeda motor. Bahkan, menurut Asep, banyak masyarakat yang menggunakan jalur tersebut untuk bersepeda.

Namun, ia menyayangkan akses menuju Kampung Benteng maupun sebaliknya masih menghadapi kendala. Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan sehingga keberadaan jembatan benar-benar mampu memperlancar konektivitas antardaerah.

Bagian penting lainnya dari sejarah Tasikmalaya adalah keterkaitannya dengan lahirnya ,Divisi Siliwangi.

Asep mengingatkan keberadaan Tugu Korps Divisi Siliwangi dengan semboyan “Patah Tumbuh Hilang Berganti, Abdi Abadi Amanat Penderitaan Rakyat” sebagai salah satu penanda sejarah perjuangan.

Secara historis, tiga divisi militer di Jawa Barat disatukan menjadi Divisi Siliwangi pada 20 Mei 1946, dengan Tasikmalaya sebagai markasnya. Tiga hari kemudian, A.H. Nasution dipilih sebagai panglima pertama. BPS Kota Tasikmalaya+1

Keberadaan monumen Divisi Siliwangi di kawasan Jalan Otto Iskandardinata, depan Alun-Alun Kota Tasikmalaya, hingga kini menjadi salah satu penanda penting dari sejarah tersebut. BPS Kota Tasikmalaya+1

Selain itu, Asep menyinggung Tugu PETA yang berkaitan dengan keberadaan Pembela Tanah Air (PETA). Dalam pandangannya, jejak PETA dan Divisi Siliwangi merupakan bagian dari rangkaian panjang sejarah perjuangan yang perlu dipahami masyarakat.

Asep juga mengajak masyarakat tidak melupakan peristiwa Sukamanah Berdarah, ketika pada masa pendudukan Jepang terjadi perlawanan KH Zainal Mustofa bersama para santrinya terhadap kebijakan tentara Jepang.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting sejarah perjuangan di wilayah Tasikmalaya. Nama KH Zainal Mustofa kemudian diabadikan menjadi salah satu nama ruas jalan utama di Kota Tasikmalaya.

Menurut Asep, berbagai jejak tersebut menunjukkan bahwa Tasikmalaya memiliki kekayaan sejarah yang sangat besar. Mulai dari perjuangan kemerdekaan, sejarah militer, perjuangan ulama dan santri, hingga perkembangan infrastruktur dan kehidupan masyarakat modern.

“Sejarah para pendiri bangsa, para pahlawan dan para pendahulu yang memberikan sumbangsih, baik moril maupun materil, harus menjadi motivasi bagi generasi penerus agar tahu dan terinspirasi untuk lebih memajukan negeri,” ungkapnya.

Asep berharap pemerintah dan masyarakat dapat bersama-sama menjaga serta menghidupkan kembali narasi sejarah Kota Tasikmalaya. Menurutnya, nama jalan, monumen, patung, taman, jembatan maupun bangunan publik dapat menjadi “buku sejarah terbuka” yang bisa dibaca masyarakat setiap hari.

Dengan demikian, sejarah tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi menjadi bagian dari identitas kota sekaligus bekal bagi generasi mendatang untuk menjaga persatuan dan meneruskan cita-cita kemerdekaan Indonesia.(Red)

Sumber : Asep Komara warga kota Tasikmalaya sebagai pemerhati sosial politik

SendShare
Redaksi

Redaksi

Related Posts

Dadaha Kian Semrawut, Publik Pertanyakan Keseriusan Pemkot Menata Ikon Wisata Tasikmalaya

Dadaha Kian Semrawut, Publik Pertanyakan Keseriusan Pemkot Menata Ikon Wisata Tasikmalaya

by Redaksi
September 13, 2026
0

Tasikmalaya kota. Peristiwajabar.co.id – Kawasan Dadaha yang selama ini dikenal sebagai salah satu ruang publik sekaligus ikon wisata olahraga Kota...

Petugas Parkir Jalur Hijau Sejuk Mengadu ke DPRD, Keluhkan Pungutan yang Dinilai Memberatkan

Petugas Parkir Jalur Hijau Sejuk Mengadu ke DPRD, Keluhkan Pungutan yang Dinilai Memberatkan

by Redaksi
September 10, 2026
0

Tasikmalaya.Peristiwajabar.co.id – Sejumlah petugas parkir yang bertugas di kawasan Jalur Hijau Sejuk, Kota Tasikmalaya, melontarkan keluhan terkait adanya pungutan yang...

Lingga Yoni di Gunung Payung Diduga Dirusak, Gasantana Dorong Pelestarian dan Penegakan Hukum

Lingga Yoni di Gunung Payung Diduga Dirusak, Gasantana Dorong Pelestarian dan Penegakan Hukum

by Redaksi
September 7, 2026
0

Tasikmalaya. Peristiwajabar.cp.id - Perusakan situs yang diduga merupakan benda cagar budaya berupa Lingga Yoni di kawasan Gunung Payung, Desa Sirnajaya,...

160 Becak Listrik Diserahkan kepada Pengayuh di Ciamis, Ditujukan untuk Ringankan Beban dan Tingkatkan Pendapatan

160 Becak Listrik Diserahkan kepada Pengayuh di Ciamis, Ditujukan untuk Ringankan Beban dan Tingkatkan Pendapatan

by Redaksi
September 6, 2026
0

Ciamis. Pristiwajabar.co.id - Sebanyak 160 unit becak listrik diserahkan kepada para pengayuh becak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Minggu (6/9/2026)....

Aduan Karang Taruna Bongkar Polemik SPPG Sindangwangi, DPRD Pangandaran Turun Tangan

Aduan Karang Taruna Bongkar Polemik SPPG Sindangwangi, DPRD Pangandaran Turun Tangan

by Redaksi
September 3, 2026
0

Pangandaran. Peristiwajabar.co.id - Aduan masyarakat yang diterima Karang Taruna Bina Remaja Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, terkait dugaan monopoli...

Next Post
72 Guru dan Kepala Sekolah di Pagerageung Ikuti Pembinaan, Perkuat Kompetensi dan Etos Kerja Demi Kemajuan Pendidikan

72 Guru dan Kepala Sekolah di Pagerageung Ikuti Pembinaan, Perkuat Kompetensi dan Etos Kerja Demi Kemajuan Pendidikan

Petugas Parkir Jalur Hijau Sejuk Mengadu ke DPRD, Keluhkan Pungutan yang Dinilai Memberatkan

Petugas Parkir Jalur Hijau Sejuk Mengadu ke DPRD, Keluhkan Pungutan yang Dinilai Memberatkan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CATEGORIES

  • Birokrasi
  • Edukasi
  • Peristiwa
  • Politik Hukum
  • Redaksi
  • Sosial Budaya
  • Uncategorized
Peristiwa Jabar

© 2022 PeristiwaJabar

  • Redaksi
  • Pedoman Jurnalistik

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik Hukum
  • Peristiwa
  • Birokrasi
  • Sosial Budaya
  • Edukasi

© 2022 PeristiwaJabar