Ciamis, peristiwajabar.co.id – SD Negeri Sindanglaya, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, kembali menyelenggarakan kegiatan Pesantren Ramadan secara rutin setiap tahun. Program keagamaan ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Sindanglaya.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahapan terstruktur, mulai dari rapat koordinasi, penyusunan Perjanjian Kerja Sama (MoU), hingga penyesuaian jadwal agar sesuai dengan kebutuhan siswa. Seluruh rangkaian kegiatan difokuskan di lingkungan sekolah agar lebih efektif dan terpantau.
Kepala SD Negeri Sindanglaya, Agus Hikmat, S.Pd, menjelaskan bahwa pemusatan kegiatan di sekolah dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi sosial di Desa Sindanglaya. Banyak orang tua siswa yang bekerja dan berdomisili di Bandung, sehingga saat libur Ramadan anak-anak sering ikut pulang bersama keluarganya.
“Dengan menyelenggarakan pesantren Ramadan di sekolah dan menghadirkan para ustaz untuk memberikan materi keagamaan, tradisi kegiatan Ramadan di desa tetap dapat berjalan dengan baik dan terarah,” ujarnya.
Materi pembelajaran selama kegiatan disesuaikan dengan program yang telah disepakati bersama antara pihak sekolah dan MUI Desa. Selain pembelajaran agama, kegiatan biasanya ditutup dengan pemberian santunan kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial.
Agus juga menyoroti kondisi tenaga pendidik di sekolahnya. Saat ini, SD Negeri Sindanglaya tidak lagi memiliki guru berstatus honorer, sehingga kebutuhan guru sangat bergantung pada kebijakan pemerintah.
Ia berharap ke depan ada pengaturan yang lebih jelas terkait kesejahteraan guru, terutama bagi mereka yang masih berstatus paruh waktu.
“Harapannya, pengaturan guru bisa disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah tentang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) penuh waktu, sehingga penghasilannya sebanding dengan kompetensi dan kinerja. Untuk guru paruh waktu, minimal upahnya bisa disesuaikan dengan standar honor yang layak,” ungkap Agus.
Ia juga mengaku prihatin terhadap kondisi kesejahteraan guru paruh waktu yang dinilai masih jauh dari memadai.
“Kami berharap pemerintah daerah lebih memperhatikan nasib guru paruh waktu. Sangat memprihatinkan jika gaji mereka bahkan masih kalah dengan upah juru masak,” tegasnya.
Melalui kegiatan Pesantren Ramadan ini, SD Negeri Sindanglaya berharap dapat terus membangun karakter religius siswa sekaligus mempererat sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Jurnalis :Anwar.W
Editor : Asep Dian








