Ciamis. Peristiwajabar.co.id Peristiwa memilukan terjadi di Desa Purwasari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Seorang warga bernama Deni menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh anak salah satu perangkat desa, menyusul konflik terkait perekrutan relawan MBG.
Akibat insiden tersebut, korban harus dilarikan ke Puskesmas Banjarsari setelah mengalami luka serius di bagian lengan akibat sabetan senjata tajam. Petugas medis setempat menyebut korban harus mendapatkan hingga 20 jahitan untuk menutup luka yang dideritanya.
Kejadian ini bermula ketika puluhan warga mendatangi SPPG Purwasari. Mereka mencurigai adanya praktik tidak transparan dalam proses perekrutan relawan MBG. Dugaan itu muncul setelah ditemukan berkas lamaran kerja yang diduga merupakan “titipan” dari oknum perangkat desa.
Situasi semakin memanas ketika tudingan tersebut memicu reaksi dari pihak perangkat desa. Tak terima, perangkat desa bersama anaknya mendatangi rumah warga hingga terjadi adu mulut yang berujung kekerasan.
Salah seorang warga, Muhammad Isnan Fatulloh, mengungkapkan bahwa konflik bermula dari saling sindir di media sosial terkait polemik rekrutmen tersebut.
“Terjadi saling sindir status antara saya dengan anak sekretaris desa. Tidak lama kemudian, mereka datang dalam keadaan emosi hingga terjadi percekcokan,” ujar Isnan, Kamis (30/04/2026).
Ia menjelaskan, situasi sempat memanas sebelum akhirnya pelaku mengeluarkan golok dan mengarahkannya. Saat itu, korban Deni yang merupakan pamannya berusaha melindungi, namun justru terkena sabetan di bagian tangan.
“Korban mencoba melindungi saya, tapi malah terkena sabetan golok hingga mengalami luka cukup parah,” tambahnya.
Pasca kejadian, pihak keluarga korban berencana melaporkan kasus tersebut ke Polsek Banjarsari agar pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.
“Saya berharap pelaku segera diamankan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tegas Isnan.
Sementara itu, Kepala Desa Purwasari, Dede Kuswanto, belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. Ia menyatakan masih mengumpulkan informasi untuk mengetahui akar permasalahan yang memicu terjadinya penganiayaan.
Kasus ini menambah daftar panjang konflik sosial yang dipicu persoalan transparansi dan komunikasi di tingkat desa, sekaligus menjadi peringatan akan pentingnya penyelesaian masalah secara damai tanpa kekerasan. (RVN)








