Cirebon. Peristiwajabar.cp.id – Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang semestinya menjadi momen sakral untuk refleksi dan pelestarian budaya, kini mulai bergeser bentuk. Di wilayah Cirebon Timur, perayaan kemerdekaan pada pertengahan Agustus ini justru diwarnai oleh maraknya fenomena ‘sound horeg’ atau parade pengeras suara bervolume raksasa yang memicu sorotan tajam dari berbagai pihak Kamis 20/08/2026 Jawabarat
Fenomena ini dinilai telah menghilangkan esensi kemerdekaan dan menggerus nilai-nilai budaya lokal. Berdasarkan pantauan di lapangan, konvoi yang mengangkut tumpukan sound system berskala besar memadati sejumlah ruas jalan utama. Parade ini bergerak perlahan menyusuri jalanan desa hingga jalan raya antar kecamatan.
Akibatnya, kemacetan lalu lintas yang parah tidak dapat dihindari. Banyak pengguna jalan dan warga setempat mengeluhkan kondisi ini karena aktivitas mereka menjadi lumpuh total selama berjam-jam akibat jalanan yang terblokir oleh kerumunan massa.
Lebih dari sekadar memicu kemacetan dan polusi suara, fenomena sound horeg ini membawa dampak sosial yang mengkhawatirkan bagi generasi muda. Alih-alih menampilkan karnaval budaya atau perlombaan tradisional yang mendidik, konvoi tersebut justru berubah menjadi arena pesta jalanan. Sekelompok pemuda tampak mengiringi dentuman musik bervolume tinggi sambil berjoget ria tanpa mengindahkan norma kesopanan.
Kondisi ini diperparah dengan temuan di lapangan yang menunjukkan adanya segelintir remaja yang memanfaatkan keramaian untuk mengonsumsi minuman keras. Praktik mabuk-mabukan di ruang publik ini jelas merusak mental generasi penerus dan menodai makna perjuangan para pahlawan yang seharusnya dihormati pada bulan kemerdekaan ini.
Tokoh Masyarakat Desak Regulasi Tegas
Ketua PAC GP Ansor Pangenan Cirebon, Rahmat Hidayat, menilai pergeseran tren perayaan ini sangat memprihatinkan. Dentuman musik elektronik yang memekakkan telinga secara perlahan menyingkirkan kesenian tradisional Cirebon yang sarat akan makna dan filosofi. Nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan patriotisme yang dahulu selalu hadir dalam setiap perayaan Agustusan kini tergantikan oleh budaya hedonisme yang instan.
Rahmat Hidayat berharap aparat penegak hukum dan pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas terkait perizinan keramaian sound horeg di masa mendatang. Diperlukan regulasi yang jelas untuk menertibkan kegiatan ini agar perayaan kemerdekaan dapat kembali ke khitahnya: menghormati sejarah, merawat nilai budaya, dan membangun generasi muda yang beradab serta berakhlak mulia.
(Iwan. D)








