Tasikmalaya. Peristiwajabar.co.id – Semarak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Tasik Selatan, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (17/8/2026), tak hanya diwarnai pawai dan kemeriahan warga. Di antara beragam atraksi karnaval, sebuah patung raksasa berbentuk tikus berdasi justru menjadi perhatian sekaligus menyampaikan kritik sosial.
Patung tersebut digambarkan mengenakan jas dan dasi, duduk di atas sebuah truk sambil membawa koper besar yang menyerupai tempat penyimpanan uang. Di bagian atas patung terpampang tulisan “HUTANG DUTA RAKYAT”.
Tak berhenti di situ, di bagian bawah rombongan warga mengarak replika bangunan menyerupai gedung pemerintahan menggunakan tandu. Rangkaian visual tersebut seolah hendak menggambarkan relasi antara kekuasaan, uang, kebijakan, dan beban yang pada akhirnya ditanggung masyarakat.
Seorang warga yang ditemui di lokasi dan meminta identitasnya tidak disebutkan mengatakan, atraksi tersebut sengaja dikemas sebagai hiburan, tetapi memiliki pesan kritik yang kuat.
“Ini seru-seruan saja, tapi ada pesan di dalamnya. Lihat tikus berdasi itu pakai jas rapi, dasi bagus, tapi isinya tetap tikus. Bawa koper penuh uang, tapi tulisannya Hutang Duta Rakyat. Artinya jelas: yang di atas menikmati hasil, yang di bawah yang memikul beban.”
Pesan tersebut menunjukkan bagaimana kritik terhadap persoalan sosial dan tata kelola pemerintahan dapat disampaikan melalui simbol, satire, dan kreativitas warga, tanpa harus hadir dalam bentuk aksi yang konfrontatif.
Karnaval rakyat pada akhirnya bukan sekadar panggung untuk merayakan kemerdekaan. Di ruang publik seperti inilah masyarakat juga menunjukkan cara mereka membaca keadaan di sekitarnya—termasuk mempertanyakan siapa yang menikmati manfaat dari kebijakan dan siapa yang harus menanggung konsekuensinya.
Kehadiran patung tikus berdasi itu pun mendapat perhatian warga dan ramai diperbincangkan di media sosial. Terlepas dari tafsir masing-masing, kritik tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas masyarakat dapat menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus aspirasi secara terbuka.
Peringatan kemerdekaan, dengan demikian, tidak hanya berbicara tentang mengenang perjuangan masa lalu. Ia juga menjadi momentum untuk mengingat kembali makna kebebasan hari ini: kebebasan berekspresi, menyampaikan kritik, dan mengingatkan penguasa agar kebijakan yang dibuat tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.
Dari Tasik Selatan, kritik itu hadir bukan lewat amarah, melainkan lewat satire. Sebuah tikus berdasi, sebuah koper, dan satu kalimat “Hutang Duta Rakyat” cukup untuk mengajak publik bertanya: siapa yang sebenarnya menikmati, dan siapa yang akhirnya membayar?
Kreativitas rakyat adalah kekuatan. Merdeka!
Jurnalis Anwar.W








