Ciamis. Peristiwajabar.co.id – Kualitas pengerjaan proyek bantuan Program Revitalisasi Sekolah di SMKS Tri Bintang, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mendapat sorotan dari Organisasi Masyarakat Gabungan Inisiatif Barisan Anak Siliwangi (Ormas GIBAS).
Ormas GIBAS PAC Purwadadi menilai terdapat sejumlah bagian bangunan yang perlu mendapat perhatian serius. Sorotan tersebut muncul setelah ditemukan kondisi fisik pada beberapa titik bangunan yang dinilai belum memenuhi harapan dari sisi kualitas pengerjaan.
Di lapangan, sejumlah bagian bangunan disebut menunjukkan kondisi yang perlu dievaluasi. Di antaranya adukan semen pada dinding yang dinilai mudah terkelupas, munculnya retakan pada sejumlah bagian dinding, hingga kondisi plesteran lantai yang terlihat pecah-pecah.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kualitas material maupun metode pengerjaan yang digunakan dalam proyek revitalisasi tersebut.
Ketua GIBAS PAC Purwadadi, Endang Rusmana, meminta pihak sekolah tidak mengabaikan temuan di lapangan dan memastikan seluruh pekerjaan dilaksanakan sesuai standar yang telah ditentukan.
“Apapun dalihnya, jika memang pihak sekolah menginginkan yang terbaik, maka mereka tidak akan membiarkan kondisi tersebut berlarut-larut,” tegas Endang, Senin (31/8/2026).
Menurut Endang, bangunan hasil program revitalisasi nantinya akan digunakan para siswa untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Karena itu, kualitas bangunan menjadi hal yang tidak semestinya dikompromikan.
Ia juga mengingatkan pihak sekolah agar berhati-hati dalam mengelola anggaran pemerintah sehingga pelaksanaan program tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
“Yang memantau program ini banyak sekali. Saya berharap pihak sekolah tidak main-main dalam melaksanakan amanah yang diberikan oleh pemerintah,” ujarnya.
Endang mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, SMKS Tri Bintang pada tahun ini memperoleh bantuan Program Revitalisasi Sekolah dengan nilai anggaran sekitar Rp1,7 miliar.
Ia berharap seluruh anggaran tersebut dapat diserap secara tepat sasaran dan setiap pengadaan maupun pekerjaan konstruksi mengikuti spesifikasi serta standar yang telah ditetapkan.
“Pengadaan barang dan pengerjaannya harus sesuai dengan standar yang sudah ditentukan, jangan malah terlihat asal-asalan seperti yang saat ini terjadi,” katanya.
Lanjut Endang, meminta dinas terkait maupun konsultan yang terlibat dalam program tersebut segera melakukan pemeriksaan terhadap seluruh bagian bangunan yang dinilai bermasalah.
Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah persoalan yang muncul berkaitan dengan kualitas bahan, metode pengerjaan, kondisi tanah, atau faktor teknis lainnya.
“Saya berharap pihak sekolah nantinya bisa mengeluarkan berita acara berisi siap bertanggung jawab jika suatu hari terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada bangunan tersebut ketika sudah digunakan,” pungkasnya.
Sementara itu, pengurus Yayasan SMKS Tri Bintang, Wawan, memberikan penjelasan terkait munculnya retakan pada sejumlah bagian bangunan.
Menurutnya, tidak seluruh pekerjaan yang terlihat di lokasi merupakan bagian dari Program Revitalisasi Sekolah. Ia menyebut terdapat pekerjaan tertentu yang dibiayai menggunakan anggaran yayasan.
“Cuaca panas tersebut mengakibatkan adanya pergeseran tanah tepat di bawah bangunan sehingga berdampak adanya retakan pada dinding bangunan,” jelas Wawan.
Ia mencontohkan salah satu bagian pondasi yang mengalami retak. Menurut Wawan, pekerjaan pondasi tersebut bukan berasal dari anggaran program revitalisasi, melainkan pekerjaan yang sebelumnya didanai oleh yayasan.
“Sebenarnya ada beberapa pekerjaan yang bukan berasal dari program revitalisasi, seperti pembuatan pondasi yang didanai dari anggaran milik yayasan. Dan pondasi yang kondisinya retak itu salah satu contohnya,” tambahnya.
Wawan juga menegaskan bahwa proses pembangunan Program Revitalisasi Sekolah di SMKS Tri Bintang hingga kini masih berjalan. Dengan demikian, pihak sekolah masih memiliki kesempatan untuk melakukan evaluasi terhadap pekerjaan yang dinilai belum sempurna.
“Ya, ini kan pembangunan masih berjalan dan kami masih memiliki waktu dalam melakukan evaluasi serta perbaikan ke depan,” katanya.
Ia memastikan pihaknya akan segera melakukan perbaikan terhadap sejumlah bagian bangunan yang ditemukan mengalami kerusakan.
Sorotan Ormas GIBAS tersebut kini menjadi perhatian terhadap pentingnya pengawasan pelaksanaan program revitalisasi sekolah, terutama untuk memastikan penggunaan anggaran berjalan sesuai peruntukan dan hasil pekerjaan memenuhi standar kualitas serta aspek keselamatan bagi para siswa dan tenaga pendidik. (Rvn)








