Ciamis. Peristiwajabar.co.id – Program edukasi kesehatan kembali digelar melalui podcast dengan menghadirkan narasumber dokter spesialis anak, dr. Hj. Suherjati, Sp.A, yang akrab disapa “Oma Dokter”. Dalam sesi tersebut, ia membahas secara komprehensif tentang pencegahan stunting, pentingnya imunisasi, serta peran gizi sejak dini dalam mendukung tumbuh kembang anak. Acara tersebut dilaksanakan di RSUD Ciamis Kamis 16/04/2026
Dalam pemaparannya, dr. Suherjati menekankan bahwa imunisasi dasar, seperti vaksin campak pada usia 9 bulan dan booster, memiliki peran penting dalam mencegah berbagai penyakit berbahaya. Ia menjelaskan bahwa vaksin tidak hanya melindungi anak dari infeksi ringan, tetapi juga dari penyakit serius seperti radang otak dan radang paru yang dapat berakibat fatal.
“Banyak orang tua khawatir anaknya demam setelah imunisasi, padahal efek tersebut ringan dan sementara. Justru vaksin melindungi dari penyakit berat yang jauh lebih berbahaya,” ujarnya.
Selain imunisasi, pencegahan stunting juga harus dimulai sejak remaja, terutama pada calon ibu. Pemerintah, menurutnya, telah melakukan langkah preventif dengan memberikan tablet zat besi (Fe) bagi remaja putri untuk meningkatkan kualitas kesehatan sejak dini. Hal ini penting karena kualitas generasi berikutnya sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu.
Ia juga menyoroti pentingnya pemberian ASI eksklusif. ASI disebut sebagai “makanan ajaib” karena memiliki komposisi yang dapat menyesuaikan kebutuhan bayi, bahkan berbeda antara siang dan malam serta antara bayi laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, ibu dianjurkan untuk memberikan ASI secara optimal.
Memasuki fase MPASI (Makanan Pendamping ASI), dr. Suherjati mengingatkan agar orang tua tidak hanya memberikan karbohidrat, tetapi juga memastikan adanya asupan protein hewani. Kekurangan protein menjadi salah satu penyebab berat badan anak tidak optimal, bahkan bisa menurun saat memasuki fase MPASI.
Dalam sesi tanya jawab, ia menjelaskan bahwa anak yang sering sakit memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting. Hal ini disebabkan karena energi tubuh lebih banyak digunakan untuk melawan penyakit dibandingkan untuk pertumbuhan, serta menurunnya nafsu makan saat sakit.
Terkait pertumbuhan tinggi badan, dr. Suherjati menegaskan bahwa orang tua perlu memperhatikan berbagai faktor seperti genetik, asupan nutrisi, hingga kemungkinan gangguan hormon. Jika tinggi badan anak tidak sesuai dengan usianya, pemeriksaan lebih lanjut sangat disarankan untuk mengetahui penyebab pastinya.
Ia juga menambahkan bahwa penilaian status gizi anak sebaiknya mengacu pada kurva pertumbuhan standar, bukan hanya berdasarkan angka berat atau tinggi badan semata.
Melalui podcast ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa pencegahan stunting memerlukan pendekatan menyeluruh, mulai dari imunisasi, pemenuhan gizi seimbang, hingga pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin.(Asdi)








