Ciamis.Peristiwajabar.co.id – Dalam rangka peringatan Hari Balita Nasional 2026 yang mengusung tema “Balita Sehat, Generasi Hebat: Cegah Stunting, Optimalkan Tumbuh Kembang”, dalam acara podcast yang di laksanakan di RSUD Ciamis bersama dokter spesialis anak dr. Hj. Suherjati, Sp.A atau yang akrab disapa “Oma Dokter”, menekankan pentingnya edukasi dan perubahan pola pikir masyarakat untuk menekan angka stunting. Kamis 14/04/2026
Dokter Suherjati, yang telah mengabdi di RSUD Ciamis sejak 2003 dan berpengalaman sebagai dokter selama 36 tahun, mengungkapkan bahwa angka stunting di Kabupaten Ciamis masih tergolong tinggi, yakni sekitar 20 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa Barat yang berada di angka 15 persen.
Menurutnya, kondisi ini cukup ironis mengingat Ciamis memiliki potensi sumber daya pangan yang melimpah. “Secara potensi, Ciamis seharusnya bisa menekan angka stunting bahkan di bawah rata-rata Jawa Barat. Tapi kita masih kalah oleh faktor kultur,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama adalah kebiasaan masyarakat yang masih menghindari konsumsi protein hewani, terutama bagi ibu hamil dan menyusui. Kepercayaan bahwa makan ikan dapat menyebabkan cacingan dinilai sebagai mitos yang tidak berdasar.
“Padahal protein hewani sangat penting untuk pertumbuhan anak sejak awal kehidupan. Ini yang harus diluruskan melalui edukasi,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti paradoks yang terjadi di Ciamis. Banyak masyarakat yang memiliki akses mudah terhadap sumber protein seperti ikan dan hasil ternak, namun tidak dimanfaatkan secara optimal dalam pola makan sehari-hari.
“Banyak rumah punya kolam ikan, peternakan ayam juga banyak, tapi angka stunting tetap tinggi. Ini menunjukkan masalahnya bukan pada ketersediaan, melainkan kebiasaan dan pola konsumsi,” tambahnya.
Dalam upaya menekan stunting, dr. Suherjati menekankan pentingnya peran keluarga, khususnya ibu dan bahkan nenek sebagai pengasuh utama anak. Ia menyebut bahwa keputusan terkait pola makan anak sering kali dipengaruhi oleh generasi yang lebih tua di dalam keluarga.
“Edukasi harus menyasar ibu dan nenek, karena mereka yang menentukan asupan anak sehari-hari,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kesehatan ibu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Anak yang sehat, kata dia, hanya dapat lahir dari ibu yang sehat, baik secara fisik maupun mental.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya pemberian ASI eksklusif, MPASI bergizi dengan kandungan protein hewani, serta imunisasi dasar lengkap seperti vaksin campak untuk mencegah penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan anak.
“ASI adalah makanan terbaik dengan komposisi yang tidak bisa digantikan. MPASI juga harus mengandung protein, bukan hanya karbohidrat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pencegahan stunting harus dimulai sejak remaja, salah satunya melalui program pemberian tablet zat besi (Fe) untuk calon ibu, guna memastikan kualitas kesehatan generasi berikutnya.
Menutup pernyataannya, dr. Suherjati menyatakan optimisme bahwa angka stunting di Indonesia, khususnya di Ciamis, dapat ditekan secara signifikan jika edukasi bekebijakan yang tepat.
“Indonesia ini kaya sumber daya. Kalau edukasi dan pola hidup diperbaiki, saya yakin stunting bisa turun drastis,” pungkasnya.(Asdi)








