Tasikmalaya. Peristiwajabar.co.id – Semangat melestarikan warisan budaya kembali digaungkan di Kabupaten Tasikmalaya. Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat kecamatan kadipaten Kabupaten Tasikmalaya Jawabarat resmi digelar sebagai ruang bagi generasi muda untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa daerah, khususnya Bahasa Sunda.
Mengusung tema “Bahasa Ibu, Jati Diri Bangsa, Kemanusan Generasi Muda”, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para siswa untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus menanamkan kebanggaan terhadap budaya sendiri.
FTBI merupakan bagian dari upaya pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa daerah bagi peserta didik sejak usia dini. Melalui berbagai perlombaan dan penampilan, para siswa didorong untuk menggunakan bahasa ibu secara baik dan benar serta memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 200 wanoja dan jajaka atau peserta didik dari 20 sekolah dasar (SD) turut ambil bagian. Mereka berkompetisi dalam tujuh mata lomba, yakni pupuh, sajak, dongeng, carpon, borangan, biantara, dan aksun.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung di dua lokasi, yakni SD Pamoyanan 1 dan Gedung PGRI.
Salah satu penyelenggara, Sri Handayani, S.Pd.I., saat diwawancarai Pangandaran News seusai kegiatan, menegaskan bahwa FTBI tidak semata-mata menjadi ajang perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan pelestarian budaya yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Bahasa ibu adalah jati diri bangsa. Jika bahasa hilang, maka hilanglah identitas kita sebagai bangsa yang berbudaya,” ujarnya.
Menurut penyelenggara, terdapat sejumlah tujuan penting yang ingin dicapai melalui pelaksanaan FTBI. Di antaranya menumbuhkan kecintaan anak terhadap bahasa ibu sejak dini, melestarikan Bahasa Sunda sebagai warisan leluhur, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa daerah, serta membentuk karakter generasi muda yang bangga terhadap budayanya sendiri.
Di tengah derasnya arus globalisasi, kemampuan menguasai bahasa asing dinilai tetap penting. Namun, generasi muda juga diharapkan tidak kehilangan kemampuan berbahasa daerah sebagai bagian dari identitas dan akar budaya mereka.
Karena itu, FTBI diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menjaga keberlangsungan Bahasa Sunda di kalangan generasi penerus.
Semangat tersebut dirangkum dalam ungkapan “Ngamumule Basa Sunda, Ngajaga Jati Diri”—memelihara Bahasa Sunda, menjaga jati diri.
Melalui FTBI, kecintaan terhadap bahasa ibu diharapkan terus tumbuh dari lingkungan sekolah dan keluarga, sehingga Bahasa Sunda tetap hidup, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Jurnalis Anwar.W








